Aku ingat
perkenalanku dengan perasaan yang bernama bahagia. Ia perempuan yang cuek,
kadang bertindak sembrono, melakukan apapun yang sering tak ia pikirkan
akibatnya, bermain-main dengan hal gila meski itu akan menyakitinya. Tapi ia
bahagia. Ia bahagia dengan dirinya yang seperti itu. Dan aku menyukai ia dengan
kebahagiaannya.
Rupanya ada
bermacam-macam perasaan di dunia ini. Tak lama setelah kami saling menyapa,
dikenalkan aku dengan perasaan-perasaan lain. Ia tak lagi menjadi perempuan
yang spontan melakukan hal yang ia suka. Kini hidupnya penuh ketakutan dan
kekhawatiran. Ia takut tak bisa memberiku makanan yang sehat. Ia takut aku
kekurangan asam folat. Ia takut lupa meminum vitamin. Ia takut melewati jalanan
yang tak rata. Ia takut mendengar kisah-kisah orang yang dikenalnya yang
berakhir menyedihkan.
Ia takut kehilangan
aku. Ia benar-benar tidak mau kehilangan aku.
Perjalanan sebulan
kurang ini sungguh rumit buatku. Aku benar-benar tak ingin membuatnya
menderita. Tapi beberapa kali kubangunkan ia di tengah malam, atau di pagi yang
terlalu dini, sekadar untuk bercanda dengan wastafel. Aku makin sering menekan
kantung kemihnya, hingga dalam sehari ia begitu akrab dengan kamar mandi. Sering
sekali kudengar ia menghembuskan napas dengan berat, seakan sudah melalui suatu
kesulitan. Aku tahu ia sedikit menderita. Tapi aku benar-benar tak ingin
membuatnya menderita. Ajaibnya, ia selalu bisa menenangkanku. Sambil mengelus
perut yang masih rata, ia tersenyum kadang tertawa, kecil saja, “Mama
menikmatinya, Nak. Mama menikmatinya.”
Namun, pada
beberapa kesempatan, kurasakan oksigen tipis menyelimutiku. Seperti ia tak
cukup membagi udara yang bebas di sekitarnya. Ternyata ia menangis. Ia
kehilangan ketegaran karena kata-kata. Hatinya yang lembut itu, yang bertambah
lembut dengan aku yang telah lebih sering membelai perasaannya, begitu mudah
tergores oleh sesuatu. Aku kaget dengan kesesakan yang tiba-tiba. Aku berniat
meronta. Menuntut kecukupan udara. Keinginanku, rupanya malah membuatnya lebih
sakit. Semalaman ia terjaga dengan nyeri yang kusebabkan. Aku takut ia akan
membenciku. Tapi, tidak. Ia masih mencintaiku. Bahkan lebih mencintaiku.
Kurasakan telapak tangannya meraba rumahku, sembari kudengar indah suara. Apa
ini? Ia seperti bernyanyi, seperti menangis. Seperti mengeluh, seperti
bersyukur. Dan apapun itu, akhirnya tak hanya mendamaikannya, suara itu pun
menenangkanku.
Apapun yang terjadi sebelumnya, malah membuat waktu bergerak
teramat lambat. Sering ia, dalam nafas panjang, menggumamkan satu nama. Akrab
sekali. Sebab selain doa antara ia dan Tuhan, selalu ia sempatkan
menyebutku dan nama itu. Namamu. Siapa dia? Siapa kamu? Aku belum berani menyapamu. Namamu hanya
kutitipi mimpi. Di perjalanan malam yang tertatih, aku meraba pikiran dalam
nama yang belum kutemui. Nama yang kutahu sangat ia rindukan, selalu ia rindukan. Bahkan dalam diskusi paling alot antara kalian.
Rindu itu yang kemudian mengajarinya sabar. Menjemput satu demi satu pagi dengan harapan bahwa nanti, di satu waktu di
akhir minggu, kau mengetuk pintu membawa keyakinan bahwa kalian benar ditakdirkan bersama. Rindu itu yang membuat harapannya tumbuh dengan subur, hingga berbuah pelukan yang lama dan kecupan yang tak sudah-sudah. Dan
Tuhan mengamini. Sabtu siang yang terik, aku mendengar suara lain yang sudah akrab di
telingaku. Sampai tanganmu itu mengecup perutnya, aku tahu aku punya cinta
lain selain perempuan ini.
Lelaki itu, kau, yang
sering disebut dalam sujud mamaku, yang kutitipi mimpi sebagai satu tanda bahwa
aku benar hadir, yang juga mengajariku soal perasaan-perasaan… lelaki yang
akhirnya bisa meluangkan dua minggu penuh bersamanya…
Aku jatuh cinta
pada senyummu. Senyum lelaki yang akhirnya melihatku bergerak ketika jantungku
berdetak.
Aku tahu kau mendengarku. Dalam ruang paling ramai pun, aku tahu kita saling berbincang: tentang nanti, tentang mimpi, juga tentang perempuan ini. Maka aku ingin kau terus mendengarku agar tahu aku sering merindukanmu. Aku selalu merindukanmu, Pa... Tak pernah berhenti merindumu, persis seperti Mama.
Tetaplah bersama kami.
"Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki,
menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras
abadi."
- Sapardi Djoko Damono
