Kamis, 20 Agustus 2015

Tentang Rasa dan Papa

Aku ingat perkenalanku dengan perasaan yang bernama bahagia. Ia perempuan yang cuek, kadang bertindak sembrono, melakukan apapun yang sering tak ia pikirkan akibatnya, bermain-main dengan hal gila meski itu akan menyakitinya. Tapi ia bahagia. Ia bahagia dengan dirinya yang seperti itu. Dan aku menyukai ia dengan kebahagiaannya.

Rupanya ada bermacam-macam perasaan di dunia ini. Tak lama setelah kami saling menyapa, dikenalkan aku dengan perasaan-perasaan lain. Ia tak lagi menjadi perempuan yang spontan melakukan hal yang ia suka. Kini hidupnya penuh ketakutan dan kekhawatiran. Ia takut tak bisa memberiku makanan yang sehat. Ia takut aku kekurangan asam folat. Ia takut lupa meminum vitamin. Ia takut melewati jalanan yang tak rata. Ia takut mendengar kisah-kisah orang yang dikenalnya yang berakhir menyedihkan.

Ia takut kehilangan aku. Ia benar-benar tidak mau kehilangan aku.

Perjalanan sebulan kurang ini sungguh rumit buatku. Aku benar-benar tak ingin membuatnya menderita. Tapi beberapa kali kubangunkan ia di tengah malam, atau di pagi yang terlalu dini, sekadar untuk bercanda dengan wastafel. Aku makin sering menekan kantung kemihnya, hingga dalam sehari ia begitu akrab dengan kamar mandi. Sering sekali kudengar ia menghembuskan napas dengan berat, seakan sudah melalui suatu kesulitan. Aku tahu ia sedikit menderita. Tapi aku benar-benar tak ingin membuatnya menderita. Ajaibnya, ia selalu bisa menenangkanku. Sambil mengelus perut yang masih rata, ia tersenyum kadang tertawa, kecil saja, “Mama menikmatinya, Nak. Mama menikmatinya.”

Namun, pada beberapa kesempatan, kurasakan oksigen tipis menyelimutiku. Seperti ia tak cukup membagi udara yang bebas di sekitarnya. Ternyata ia menangis. Ia kehilangan ketegaran karena kata-kata. Hatinya yang lembut itu, yang bertambah lembut dengan aku yang telah lebih sering membelai perasaannya, begitu mudah tergores oleh sesuatu. Aku kaget dengan kesesakan yang tiba-tiba. Aku berniat meronta. Menuntut kecukupan udara. Keinginanku, rupanya malah membuatnya lebih sakit. Semalaman ia terjaga dengan nyeri yang kusebabkan. Aku takut ia akan membenciku. Tapi, tidak. Ia masih mencintaiku. Bahkan lebih mencintaiku. Kurasakan telapak tangannya meraba rumahku, sembari kudengar indah suara. Apa ini? Ia seperti bernyanyi, seperti menangis. Seperti mengeluh, seperti bersyukur. Dan apapun itu, akhirnya tak hanya mendamaikannya, suara itu pun menenangkanku.

Apapun yang terjadi sebelumnya, malah membuat waktu bergerak teramat lambat. Sering ia, dalam nafas panjang, menggumamkan satu nama. Akrab sekali. Sebab selain doa antara ia dan Tuhan, selalu ia sempatkan menyebutku dan nama itu. Namamu. Siapa dia? Siapa kamu? Aku belum berani menyapamu. Namamu hanya kutitipi mimpi. Di perjalanan malam yang tertatih, aku meraba pikiran dalam nama yang belum kutemui. Nama yang kutahu sangat ia rindukan, selalu ia rindukan. Bahkan dalam diskusi paling alot antara kalian.

Rindu itu yang kemudian mengajarinya sabar. Menjemput satu demi satu pagi dengan harapan bahwa nanti, di satu waktu di akhir minggu, kau mengetuk pintu membawa keyakinan bahwa kalian benar ditakdirkan bersama. Rindu itu yang membuat harapannya tumbuh dengan subur, hingga berbuah pelukan yang lama dan kecupan yang tak sudah-sudah. Dan Tuhan mengamini. Sabtu siang yang terik, aku mendengar suara lain yang sudah akrab di telingaku. Sampai tanganmu itu mengecup perutnya, aku tahu aku punya cinta lain selain perempuan ini.

Lelaki itu, kau, yang sering disebut dalam sujud mamaku, yang kutitipi mimpi sebagai satu tanda bahwa aku benar hadir, yang juga mengajariku soal perasaan-perasaan… lelaki yang akhirnya bisa meluangkan dua minggu penuh bersamanya…

Aku jatuh cinta pada senyummu. Senyum lelaki yang akhirnya melihatku bergerak ketika jantungku berdetak.

Aku tahu kau mendengarku. Dalam ruang paling ramai pun, aku tahu kita saling berbincang: tentang nanti, tentang mimpi, juga tentang perempuan ini. Maka aku ingin kau terus mendengarku agar tahu aku sering merindukanmu. Aku selalu merindukanmu, Pa... Tak pernah berhenti merindumu, persis seperti Mama.
Tetaplah bersama kami.



   "Ketika kita saling berbisik
    Di luar semakin sengit malam hari
    Memadamkan bekas-bekas telapak kaki,
    menyekap sisa-sisa unggun api
    Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras
abadi."
           - Sapardi Djoko Damono

Rabu, 29 Juli 2015

Halo, Ma...

Aku ingin mencatat ia dalam tulisan ini, yang kuketik sambil berandai-andai tentang kehidupan di bumi. Sebut saja aku Hadiah untuk sepasang manusia yang masih di puncak bahagia.

Kalau kau tanya kapan aku hadir, tak bisa kukira-kira. Terlalu banyak kesempatan yang mereka ciptakan. Kalau kau tanya kapan aku meyadari bahwa aku ada, aku pun tak pandai menebak. Hanya saja sudah kukirimkan banyak alamat untuknya. Tapi perempuan ini, yang kutumpangi bagian tubuhnya, sulit sekali membaca pertanda. Kukirimkan ia petunjuk lewat keluh soal bau, air mata yang gampang jatuh, hingga ia yang pada satu pagi akhirnya rubuh. Dan akhirnya setelah doa panjang selepas tengah malam, kuhadiahkan ia sekuntum amarilis; putih yang bergaris-garis merah. Ia terkejut. Entah tersenyum entah menangis, huruf-huruf di layar ponselnya seketika buram. Ia hanya mampu mengirim satu kata dengan tanda tanya. “Kak?”

Bulan masih berpesta dengan perayaan yang membuat toko-toko tutup, pekerja libur, dan kesusahan yang menjadi-jadi untuk membuat janji dengan seorang dokter ahli. Hari ke dua puluh delapan di bulan Juli yang berangin, ia menyapaku lewat dingin cairan di perutnya dan basah matanya. “Halo, si Kacang Kecil…” ucapnya dalam hati. Aku membalasnya dengan doa agar ia kuat membawaku bersamanya sampai pada waktunya.

Pertemuan Pertama

"Aku tahu, kau akan tetap terselip di antara  huruf-huruf dalam buku yang kubaca, di antara butir-butir udara yang kuhirup, bahkan di sela-sela sel-sel darah yang menghidupkanku. Aku tetap percaya kepada kata, kepada huruf. Itulah yang menyebabkan adanya hubungan antara oasis dan bukit-bukit pasir itu." - Sapardi Djoko Damono