Aku ingin mencatat
ia dalam tulisan ini, yang kuketik sambil berandai-andai tentang kehidupan di
bumi. Sebut saja aku Hadiah untuk sepasang manusia yang masih di puncak
bahagia.
Kalau kau tanya
kapan aku hadir, tak bisa kukira-kira. Terlalu banyak kesempatan yang mereka
ciptakan. Kalau kau tanya kapan aku meyadari bahwa aku ada, aku pun tak pandai
menebak. Hanya saja sudah kukirimkan banyak alamat untuknya. Tapi perempuan
ini, yang kutumpangi bagian tubuhnya, sulit sekali membaca pertanda. Kukirimkan
ia petunjuk lewat keluh soal bau, air mata yang gampang jatuh, hingga ia yang
pada satu pagi akhirnya rubuh. Dan akhirnya setelah doa panjang selepas tengah
malam, kuhadiahkan ia sekuntum amarilis; putih yang bergaris-garis merah. Ia terkejut.
Entah tersenyum entah menangis, huruf-huruf di layar ponselnya seketika buram. Ia
hanya mampu mengirim satu kata dengan tanda tanya. “Kak?”
Bulan masih
berpesta dengan perayaan yang membuat toko-toko tutup, pekerja libur, dan
kesusahan yang menjadi-jadi untuk membuat janji dengan seorang dokter ahli. Hari
ke dua puluh delapan di bulan Juli yang berangin, ia menyapaku lewat dingin
cairan di perutnya dan basah matanya. “Halo, si Kacang Kecil…” ucapnya dalam
hati. Aku membalasnya dengan doa agar ia kuat membawaku bersamanya sampai pada
waktunya.
![]() |
| Pertemuan Pertama |
"Aku tahu, kau akan tetap terselip di antara huruf-huruf dalam buku yang kubaca, di antara butir-butir udara yang kuhirup, bahkan di sela-sela sel-sel darah yang menghidupkanku. Aku tetap percaya kepada kata, kepada huruf. Itulah yang menyebabkan adanya hubungan antara oasis dan bukit-bukit pasir itu." - Sapardi Djoko Damono
