Rabu, 29 Juli 2015

Halo, Ma...

Aku ingin mencatat ia dalam tulisan ini, yang kuketik sambil berandai-andai tentang kehidupan di bumi. Sebut saja aku Hadiah untuk sepasang manusia yang masih di puncak bahagia.

Kalau kau tanya kapan aku hadir, tak bisa kukira-kira. Terlalu banyak kesempatan yang mereka ciptakan. Kalau kau tanya kapan aku meyadari bahwa aku ada, aku pun tak pandai menebak. Hanya saja sudah kukirimkan banyak alamat untuknya. Tapi perempuan ini, yang kutumpangi bagian tubuhnya, sulit sekali membaca pertanda. Kukirimkan ia petunjuk lewat keluh soal bau, air mata yang gampang jatuh, hingga ia yang pada satu pagi akhirnya rubuh. Dan akhirnya setelah doa panjang selepas tengah malam, kuhadiahkan ia sekuntum amarilis; putih yang bergaris-garis merah. Ia terkejut. Entah tersenyum entah menangis, huruf-huruf di layar ponselnya seketika buram. Ia hanya mampu mengirim satu kata dengan tanda tanya. “Kak?”

Bulan masih berpesta dengan perayaan yang membuat toko-toko tutup, pekerja libur, dan kesusahan yang menjadi-jadi untuk membuat janji dengan seorang dokter ahli. Hari ke dua puluh delapan di bulan Juli yang berangin, ia menyapaku lewat dingin cairan di perutnya dan basah matanya. “Halo, si Kacang Kecil…” ucapnya dalam hati. Aku membalasnya dengan doa agar ia kuat membawaku bersamanya sampai pada waktunya.

Pertemuan Pertama

"Aku tahu, kau akan tetap terselip di antara  huruf-huruf dalam buku yang kubaca, di antara butir-butir udara yang kuhirup, bahkan di sela-sela sel-sel darah yang menghidupkanku. Aku tetap percaya kepada kata, kepada huruf. Itulah yang menyebabkan adanya hubungan antara oasis dan bukit-bukit pasir itu." - Sapardi Djoko Damono 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar